Paijo memacu mobilnya di tengah kota. Budi dan Jono yang ikut menumpang jadi ketar-ketir melihat cara menyetir Paijo yang ugal-ugalan.
"jo, tadi kan lampu merah, kok kamu terus saja? Bisa tabrakan nanti kita..." keluh Budi.
Paijo menjawab dengan santai, "Ah, abangku selalu begitu, sampai sekarang sehat-sehat saja."
Tidak berapa lama kemudian, mereka tiba di lampu merah berikutnya. Walaupun lampu menyala merah, Paijo tetap tancap gas.
"Wah, kalau begini terus bisa mati kita... Paling tidak opname di rumah sakit..." kata Budi kuatir.
Namun lagi-lagi Paijo menjawab, "Kalian bedua tenang saja. Abangku selalu nerobos lampu merah, nyatanya sampai sekarang dia sehat-sehat saja."
Sampai ketika mereka tiba lagi di persimpangan, tiba-tiba lampu hijau menyala. Dengan serta merta Paijo menginjak rem sampai mobilnya berhenti. Budi dan Jono yang heran kemudian bertanya, "Kok kamu malah berhenti? Lampunya kan hijau?"
"Tentu saja aku berhenti," jawab Paijo, "Coba kalian bayangkan, di sebelah sana kan lagi merah. Lha, kalo abangku lewat dari sebelah sana gimana? Bisa ancur kita!"
"Aku sangat heran padamu..." Kata Budi kepada Aldo, "Kamu masih muda, perjaka, tampan, kekar dan banyak gadis yang suka padamu. Kenapa kamu malah merelakan diri menikah dengan Bu Utomo yang tua, peot dan sering sakit-sakitan itu?"
"Aku tidak menikah dengan Bu Utomo. Aku merasa sekarang sedang menikahi harta kekayaannya," jawab Aldo dengan santai.
Seorang pencuri mendatangi sebuah daerah hunian hendak melakukan aktivitasnya. Matanya tertuju kepada seorang bocah laki-laki yang sedang duduk di dalam pintu rumahnya, lehernya tergantung seuntai kunci. Ia coba melangkah ke depan dan bertanya: "Nak, Bapakmu apa ada di rumah?"
"Bapakku tak ada di rumah," jawab bocah laki-laki itu.
"Aku adalah tukang periksa meteran listrik. Bolehkah aku masuk sebentar?" kata pencuri itu lebih lanjut.
"Sudah tentu boleh, masuklah..."
Bocah itu membukakan pintu untuknya, tapi baru saja si pencuri melongokkan kepalanya ke dalam, ia pun segera mundur selangkah lalu lari terbirit-birit. Bocah cilik itu berteriak-teriak mengejarnya: "Bapakku benar-benar tak ada di rumah. Mereka adalah Pakcik dan Pakdeku."